Pernah tidak ko lagi jalan-jalan di Makassar, terus tiba-tiba dengar dua orang bapak-bapak lagi cerita di pinggir jalan, tapi gayanya kayak orang lagi mau baku hantam? Bahunya tegap, tangannya bergerak ke mana-mana, matanya menatap tajam, terus bicaranya... astaga, temponya kayak knalpot motor racing yang gasnya lagi ditarik pol di Jalan Pettarani pas tengah malam! Kalimat demi kalimat meluncur laju tanpa rem, intonasinya naik-turun menukik tajam, dan di setiap sela kalimat selalu bertaburan partikel sakti: ji, mi, ki, pi, tawwa, tong.
Buat kawan-kawan yang baru pertama kali injakkan kaki di Makassar—entah baru turun dari Bandara Sultan Hasanuddin atau Pelabuhan Paotere—momen begini sering bikin jantungan. Banyak yang spontan mundur teratur sambil membatin dalam hati, "Aduh, kenapa ini orang marah-marah ka'?"
Padahal kalau ko dekati dan pasang telinga baik-baik, isi percakapannya sebenarnya cuma begini:
"Eh bambang! Di mana ko beli itu sandalmu? Bagus tawwa, belikanka tong satu kapang!"
"Di Sentral ji bosku! Murah ji, lima puluh ribu ji kubayar kemarin. Mauko kah? Ayo kuantar ki sekarang!"
Nah, kan? Jauh sekali dari kata baku hantam! Itu mi seni terbesarnya gaya bicaranya orang Makassar. Di luar kelihatan ngegas kayak mau perang, tapi aslinya kalau ko sudah duduk cerita, hatinya seluas Pantai Losari pas air lautnya lagi surut. Manis dan gurihnya ngalah-ngalahi semangkuk Pallubasa campur alas kelapa sangrai.
Antara Pelaut Ulung, Deburan Ombak, dan Volume Suara
Biar ko tidak salah paham lagi, kita harus tahu dulu akar ceritanya. Kenapa sih orang Makassar kalau bicara nada suaranya mantap sekali dan temponya cepat?
Secara historis dan kultural, Makassar adalah tanahnya para pelaut ulung, perantau tangguh, dan masyarakat pesisir yang terbiasa hidup bersahabat dengan kerasnya ombak Selat Makassar. Zaman dulu, orang-orang tua kita kalau bicara di atas perahu Pinisi di tengah laut, tidak bisa bisik-bisik atau pakai nada manja mendayu-dayu. Kalau ko bicara pelan, suaramu ditelan deru ombak sama angin kencang. Makanya, artikulasi harus tegas, suara harus tembus angin, dan pesan harus sampai dalam hitungan detik.
Karakter itu terbawa turun-temurun ke dalam dialek harian. Sampai hari ini, intonasi tegas itu sudah jadi setelan pabrik. Kalau ko coba-coba bicara terlalu pelan, berbelit-belit, atau lemas kayak kerupuk kena kuah coto, orang di sini malah bakal bingung. Ujung-ujungnya ko bakal ditegur, "Kenapa ko loyo sekali bicara? Sakitko kah? Bicara yang jelas ki!"
Bagi orang Makassar, bicara dengan suara lantang dan tempo cepat adalah tanda kejujuran, ketegasan, dan semangat hidup. Tidak ada kepalsuan di baliknya. Apa yang berputar di kepala, itu mi yang langsung meluncur keluar lewat mulut tanpa perlu disaring berlapis-lapis sampai hilang maksud aslinya.
Kamus Mini Partikel Sakti: Kunci Kehangatan yang Tersembunyi
Banyak orang mengira intonasi tinggi sama dengan ketus. Padahal, rahasia kelembutan dan rasa sayang orang Makassar itu tersimpan rapat di dalam partikel-partikel kecil yang selalu mereka selipkan di ujung kalimat. Kalau ko paham fungsinya, ko bakal sadar betapa manisnya cara mereka memperlakukan lawan bicara:
- Partikel "Ji" (Penenang Jiwa)
Ini partikel paling sakti untuk meredakan ketegangan. Kata "tidak apa-apa" terasa biasa saja, tapi begitu berubah jadi "Tenang mako, tidak apa-apaji itu," rasanya beban hidup langsung berkurang separuh. Kata ji ini fungsinya meminimalisir masalah, seolah-olah mau bilang, "Masalah kecil ji ini, bisa ji kita lewati sama-sama." - Partikel "Mi" (Aksi dan Kepastian)
Kalau orang Makassar bilang "Makan mi," "Pergi mako," atau "Ambil mi," itu bukan mengusir atau menyuruh dengan kasar. Itu adalah bentuk kepastian dan keikhlasan. Mengatakan "Ambil mi tawwa" artinya mereka merelakan sesuatu untukmu dengan sepenuh hati tanpa perhitungan. - Partikel "Ki" (Tanda Hormat yang Halus)
Di balik suaranya yang keras, orang Makassar punya tata krama yang sangat dijunjung tinggi. Penggunaan kata ganti atau akhiran ki adalah bentuk penghormatan (tabe’). Misalnya, "Tabe’ kak, silakanki duduk dulu." Meskipun diucapkan dengan tempo cepat, penyebutan ki langsung menurunkan derajat keformalan jadi rasa kekeluargaan yang santun. - Partikel "Tawwa" (Empati dan Pujian Tulus)
Ini kata yang paling susah diterjemahkan ke bahasa Indonesia baku, tapi punya rasa yang dalam sekali. Tawwa bisa berarti kasihan, kagum, atau ikut berbahagia. Kalau ada teman berhasil beli motor baru, orang bakal bilang, "Wih, gantengnya tawwa motormu!" Di situ tidak ada rasa iri dengki, murni ikut senang melihat temannya maju. - Panggilan "Bosku" dan "Bambang"
Jangan heran kalau ko baru pertama kali belanja di Pasar Todopuli atau mampir di tambal ban, orang langsung panggil ko "Bosku" atau "Bambang". Itu cara instan meruntuhkan dinding jarak. Dalam hitungan detik, ko bukan lagi orang asing; ko sudah dianggap kawan nongkrong sefrekuensi.
Kalau ko betul-betul mau membuktikan seberapa hangatnya orang Makassar di balik gaya bicaranya yang cepat, datang mako ke warung kopi alias warkop. Di kota ini, warkop bukan sekadar tempat minum kafein biar tidak mengantuk, tapi sudah jadi ruang tamu bersama seluruh warga kota.
Dari Warkop Phoenam yang legendaris, Warkop Tong San, sampai deretan warkop modern di sepanjang Jalan Toddopuli dan Hertasning, pemandangannya selalu sama. Kursi plastik tersusun rapat, meja kayu sederhana, dan asap kopi susu yang baru ditarik membubung ke udara. Di sana tidak ada sekat kasta. Pejabat berdasi bisa duduk semeja dengan sopir angkot, mahasiswa perantauan ngobrol lepas sama bos kontraktor, dan semuanya bicara dengan gaya yang sama: cepat, lepas, dan volumenya mantap!
Kalau ko duduk sendiri di pojokan warkop sambil pasang muka bingung, tidak sampai lima belas menit pasti ada yang nyeletuk dari meja sebelah: "Dari mana ki ini saudaraku? Baru kelihatan di sini kapang. Minum maki kopi, santai-santai maki dulu."
Di warkop, gaya bicara yang cepat itu berubah jadi musik pengiring obrolan yang renyah. Orang berdebat soal politik, bola, sampai harga cabai rawit dengan urat leher kelihatan menonjol. Orang luar yang lihat mungkin mengira sebentar lagi bakal ada piring terbang. Padahal, lima menit kemudian setelah kopinya habis, mereka bakal saling rangkul, bayarkan kopi temannya, terus pulang sambil ketawa terbahak-bahak: "Besok pagi kumpul lagi di sini nah, bosku!"
Nilai Siri’ na Pacce: Mengapa Mereka Selalu Pasang Badan Buat Kawan
Karakter bicara yang ceplas-ceplos, tegas, dan ekspresif ini sebenarnya adalah manifestasi luar dari falsafah hidup orang Bugis-Makassar, yaitu Siri’ na Pacce.
Siri’ mengajarkan harga diri, kehormatan, dan integritas. Itulah kenapa orang Makassar tidak suka bicara manis di depan tapi menusuk di belakang. Kalau mereka suka, mereka bilang suka; kalau mereka tidak setuju, langsung disikat di depan mata saat itu juga. Semuanya transparan, tidak ada topeng kemunafikan.
Sementara Pacce adalah rasa pedih, empati, dan solidaritas kemanusiaan yang teramat dalam. Kalau ko sudah dianggap kawan atau keluarga, rasa pacce ini yang bikin mereka tidak tega melihat ko kesusahan.
Misalnya ko kehabisan bensin tengah malam di jalanan sepi, terus ada anak muda Makassar lewat. Cara bicaranya mungkin terdengar ngegas: "Aih, kenapa bisa habis bensinmu bambang? Kenapa tidak ko cek memang tadi sebelum jalan?!"
Kedengarannya kayak dimarahi, kan? Tapi lihat apa yang dia lakukan setelah itu: dia langsung putar balik motornya, pergi carikan ko bensin eceran pakai botol sirup DHT, atau dia dorong motormu sampai dapat pom bensin terdekat tanpa mau dibayar sepeser pun. Pas ko mau kasih uang terima kasih, dia bakal tolak sambil ketawa lepas: "Aih, simpan mi uangmu itu bosku, kayak sama siapa sajakah ko ini! Sesama kawan jalanan ji kita."
Itulah esensi aslinya. Suaranya boleh pedas kayak sambal cobek-cobek, tapi tindakannya semanis kuah es pisang ijo yang disiram sirup merah dingin di tengah teriknya siang hari.
Jangan Kaget, Dudukki Dulu dan Nikmati Kehangatannya
Jadi, kalau nanti ko berkunjung lagi ke Makassar dan telingamu diserbu rentetan kata-kata cepat bernada tinggi di bandara, di pelabuhan, di warung makan, atau di lampu merah... jangan buru-buru pasang muka tegang atau merasa terintimidasi. Santai mako! Tarik napas panjang-panjang, lemparkan senyum terbaikmu, dan balas sapuan mereka dengan ramah.
Pasang telinga baik-baik, dengarkan ketulusan di balik nada bicaranya yang meledak-ledak. Nanti ko bakal sadar sendiri, orang Makassar itu tidak pernah punya niat menakut-nakuti siapa pun. Mereka cuma terbiasa menyambut dunia dengan energi penuh dan dada yang lapang. Di tanah Daeng ini, kerasnya suara adalah bukti hidupnya pergaulan, dan cepatnya kata-kata adalah tanda bahwa pintu persaudaraan selalu terbuka lebar tanpa perlu basa-basi kelamaan.
Tabe’ maki semua, selamat menikmati obrolan hangat di sudut Kota Anging Mammiri!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar