Halo, Bosku! Kalau ki' tinggal di Makassar atau kebetulan lewat jalan-jalan protokol beberapa hari terakhir ini, pemandangannya pasti bikin geleng-geleng kepala.
Coba perhatikan SPBU di Jalan Veteran Selatan atau di Jalan Abdul Kadir. Antreannya mengular panjang sampai ke badan jalan raya, bikin kemacetan parah di mana-mana. Fenomena antrean ini ternyata sudah mulai padat sejak Rabu, 9 September 2026 kemarin. Saking paniknya, banyak warga yang rela bertahan di barisan berjam-jam sampai malam hari mendekati jam operasional tutup demi mendapat pasokan BBM.
Lucunya (atau mungkin ironisnya), pihak pemerintah dan Pertamina sudah berulang kali menegaskan kalau stok BBM itu sebenarnya aman. Sampai-sampai, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, AM Nurdin Halid, ikut turun menyoroti masalah ini dan menduga ada hal yang "tidak beres" pada tata kelola dan rantai distribusinya.
Tapi di luar urusan distribusi dan kebijakan di tingkat atas itu, mari kita bahas dari kacamata kita sebagai rakyat biasa khususnya para bikers. Saat melihat barisan motor mengular panjang, insting herd mentality (ikut-ikutan) kita pasti langsung menyala. Kita jadi panik dan ingin langsung putar balik masuk barisan.
Apalagi kalau ki' kebetulan membawa motor yang jeroannya sudah dimodifikasi. Merawat Yamaha Vega R yang karburatornya sudah upgrade ke PWK 24 Sudco dan diakali masuk ke airbox standar itu memang asyik tarikannya jauh lebih responsif dan nafasnya lebih panjang. Tapi kompensasinya jelas: suplai bensin harus selalu dijaga agar tidak kering di tengah jalan.
Namun pertanyaannya: di tengah gempuran panic buying ini, apakah ikut mematung berjam-jam demi full tank itu sebuah keputusan yang cerdas, atau justru bikin kita makin 'boncos'? Mari kita berhitung sedikit pakai logika.
- Waktu adalah Uang (Yang Sering Kita Lupakan)
Katakanlah ki' antre 2 jam di bawah terik matahari. Kalau nilai waktu produktif ta' dihargai sesuai standar UMR saja (misal Rp 20.000 per jam), ki' sebenarnya sudah membuang Rp 40.000 secara cuma-cuma. Kalau ta' punya proyek yang harus diurus atau punya pekerjaan harian, waktu 2 jam itu mungkin nilainya jauh lebih besar dari harga bensin subsidi yang berhasil ki' dapatkan. - Bensin Menguap Sia-sia Saat Idling
Saat antre panjang, motor seringnya dalam posisi mesin menyala sambil maju sedikit-sedikit (stop and go). Mesin yang idling di tengah suhu jalanan yang panas tetap menyedot bensin dengan rakus—terutama kalau settingan spuyer karbu ta' sedang basah. Tujuan awalnya mau mengisi bensin, eh malah bensin sisa di tangki terkuras habis cuma buat mengantre. - Biaya Kesehatan Mental dan Fisik
Berdiri menahan panas, menghirup kepulan asap knalpot dari ratusan motor di depan ta', dan menahan emosi kalau tiba-tiba ada yang menyerobot antrean. Kelelahan fisik ini sering bikin badan langsung drop. Kalau ujung-ujungnya masuk angin dan harus beli obat, atau malah harus absen kerja besoknya, hitungan 'hemat' bensinnya jadi minus besar.
Cara Elegan Menghadapi Kepanikan
Bosku, panic buying itu penyakit menular. Saat diumumkan stok aman, yang sering bikin bensin di SPBU cepat habis justru adalah perilaku kita sendiri yang biasanya cuma isi Rp 20.000 mendadak mau isi tangki penuh-penuh secara bersamaan.
Kalau jarum indikator bensin ta' masih di tengah, lebih baik pulang saja. Lewatkan SPBU yang antreannya sudah tumpah ke jalan. Biarkan mereka yang tangkinya benar-benar nyaris kosong yang mengantre duluan.
Ketenangan dan kewarasan kita jauh lebih mahal harganya daripada ikut-ikutan terjebak dalam barisan kepanikan. Setuju di'?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar