Kawasan Sudiang yang dulunya dikenal sebagai daerah pemukiman yang tenang dan pintu gerbang utama penyambut tamu Kota Daeng, beberapa waktu belakangan ini mendadak berubah menjadi wilayah abu-abu yang mencekam. Bukan lagi sekadar remaja nakal yang adu cepat knalpot, tapi ini sudah masuk ke level teror kelompok bersenjata jalanan alias geng motor.
Puncaknya meledak lewat tragedi berdarah yang baru-baru ini mengguncang warga Makassar sampai ke ubun-ubun: seorang mahasiswa yang sedang melintas tanpa dosa menjadi korban salah sasaran, diserang secara brutal oleh gerombolan bermotor hingga meregang nyawa di aspal dingin Sudiang. Dan fakta paling mengerikan yang membuat siapa pun mengelus dada adalah kenyataan pahit di balik pelakunya: komplotan yang menebar maut ini justru didominasi oleh anak-anak di bawah umur—bocah-bocah usia SMP dan awal SMA yang tangannya sudah memegang busur panah dan senjata tajam.
Tragedi Maut Mahasiswa: Korban Acak di Tengah Butanya Solidaritas Jalanan
Kematian mahasiswa tersebut bukan sekadar angka statistik kriminalitas biasa di lembaran berita koran. Kejadian ini membuka mata publik tentang betapa gilanya logika yang berjalan di kepala anak-anak geng motor ini.
Korban malam itu tidak punya masalah pribadi dengan siapa pun. Dia bukan anggota kelompok musuh, tidak sedang mencari masalah, dan hanya pemuda biasa yang sedang melintas untuk pulang ke tempat tinggalnya setelah menyelesaikan urusan perkuliahan. Tapi di mata gerombolan yang sedang kalap ini, setiap orang yang melintas di "wilayah" mereka dianggap musuh yang sah untuk dihantam.
Modus mereka selalu sama dan pengecut sekali, bosku: konvoi puluhan motor berboncengan tiga, mematikan lampu utama untuk menyamarkan identitas, lalu membuntuti target yang sendirian. Tanpa ada adu mulut, tanpa ada peringatan, anak panah besi rakitan (busur) langsung dilesatkan ke arah tubuh korban dari jarak dekat. Begitu korban terjatuh bersimbah darah, para pelaku langsung tancap gas meninggalkan korbannya meregang nyawa di jalanan sepi.
Kepergian mahasiswa ini meninggalkan luka batin yang teramat perih bagi keluarga yang menyekolahkannya jauh-jauh dengan harapan besar kelak menjadi kebanggaan orang tua. Harapan masa depan yang dibangun belasan tahun sirna dalam hitungan detik, hanya demi memuaskan haus validasi sekelompok bocah yang merasa hebat jika sudah menumpahkan darah sesamanya.
Fenomena Geng Bocah: Wajah Masih Ingusan, Nyali Dibalut Busur Besi
Hal yang paling meremukkan hati dari rentetan pengungkapan kasus geng motor di Sudiang adalah profil para pelakunya saat digiring polisi. Begitu penutup wajahnya dibuka di depan kamera penyidik, publik dibuat terperangah: kebanyakan dari mereka masih bertubuh kurus, wajahnya masih sangat kekanak-kanakan, bahkan sebagian belum genap berusia 15 tahun!
Bagaimana bisa anak yang seharusnya masih tidur di kamarnya sambil bersiap sekolah besok pagi, justru berkeliaran jam tiga subuh dengan ketapel pelontar dan anak panah berkarat di saku jaketnya?
Ada pergeseran psikologis yang sangat berbahaya di kalangan remaja tanggung ini. Mereka tidak lagi mencari eksistensi lewat prestasi sekolah atau adu skill positif. Mereka mencari sensasi power instan. Di dunia nyata, di rumah atau di sekolah, mereka mungkin anak-anak biasa yang tidak dianggap atau bahkan sering dimarahi. Tapi begitu mereka naik motor bersama kelompoknya, mengenakan jaket bertuliskan nama geng, dan memegang senjata di tangan, seketika mereka merasa menjadi penguasa malam yang ditakuti orang dewasa.
Lebih mirisnya lagi, aksi brutal ini sering kali dipicu oleh hal-hal yang sama sekali tidak masuk akal:
- Tantangan Konten Medsos: Saling sindir di siaran langsung Instagram atau TikTok dengan geng motor asal lorong lain, lalu janjian bentrok di perbatasan Sudiang demi bikin video konten kekerasan.
- Ujian Masuk Anggota (Inisiasi): Beberapa kelompok mewajibkan calon anggota baru untuk "membuktikan keberanian" dengan cara melukai siapa saja yang melintas secara acak.
- Euforia Kerumunan (Deindividuasi): Secara individu, anak-anak ini sebenarnya penakut. Tapi begitu berkumpul dalam rombongan puluhan motor, rasa tanggung jawab moralnya hilang total, digantikan oleh arogansi kelompok yang membabi buta.
Labirin Lorong Sudiang dan Tembok Pembatas Hukum Anak
Penanganan geng motor di Sudiang bukan hal gampang bagi jajaran kepolisian Polsek Biringkanaya dan Polrestabes Makassar. Kompleksitas kawasan Sudiang yang dipenuhi gang-gang perumahan tembus ke berbagai penjuru membuat kelompok anak-anak ini sangat lincah meloloskan diri setelah melancarkan aksinya.
Belum lagi masalah dilema hukum. Karena mayoritas pelaku masuk dalam kategori anak di bawah umur, proses hukum mereka terikat oleh Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Celah ini kerap disadari atau bahkan dimanfaatkan oleh kelompok mereka: mereka merasa tidak akan dihukum berat atau bakal dikembalikan ke orang tua lewat mekanisme diversi.
Akibatnya, rasa jera susah terbentuk. Sudah sering terjadi, bocah yang malam ini diamankan sambil menangis tersedu-sedu meminta ampun di depan polisi dan orang tuanya, dua minggu kemudian kembali terlihat nongkrong di lingkaran geng motor yang sama dengan dendam baru di dadanya.
Kemana Perginya Orang Tua? Memutus Rantai Setan dari Meja Makan
Kita tidak bisa terus-terusan hanya menyalahkan polisi atau menuntut ronda malam diperketat setiap malam. Pertanyaan paling telak harus diarahkan lurus ke dalam rumah masing-masing: ke mana orang tua dari anak-anak ini saat malam berganti subuh?
Sangat tidak masuk akal jika seorang anak usia 13 atau 14 tahun bisa keluar rumah membawa sepeda motor hingga dini hari tanpa ada kecurigaan sama sekali dari bapak dan ibunya. Ketidakpedulian di rumah adalah pintu gerbang utama lahirnya monster di jalanan. Ketika rumah kehilangan kehangatan, pengawasan, dan ketegasan, anak-anak ini akan mencari rumah pengganti di jalanan aspal—dan sayangnya, "rumah" jalanan mengajarkan mereka bahwa kekerasan adalah tanda kehormatan.
Warga Sudiang sekarang sudah berada di titik jenuh. Kehilangan nyawa seorang mahasiswa yang masa depannya direnggut paksa harus menjadi lonceng peringatan terakhir. Tokoh masyarakat, aparat penegak hukum, pihak sekolah, dan terutama lingkungan keluarga harus bersikap tegas tanpa kompromi. Razia senjata tajam harus digencarkan hingga ke lorong-lorong terdalam, sanksi pembinaan terpadu harus memberi efek kejut nyata, dan orang tua yang lalai mengawasi anaknya hingga membawa maut bagi orang lain harus dimintai pertanggungjawaban moral yang berat.
Makassar ini tanah adat yang menjunjung tinggi Siri' na Pacce—menjaga kehormatan dan punya rasa empati kemanusiaan yang tinggi. Menyerang orang tak bersalah dari belakang menggunakan busur di tengah gelapnya malam bukanlah tindakan ksatria; itu perbuatan pengecut yang mencoreng harga diri tanah Daeng.
Hentikan kegilaan ini sekarang juga, sebelum ada lagi nyawa anak manusia yang melayang sia-sia di bawah roda besi bocah-bocah pemburu teror di jalanan Sudiang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar