Coba ki' bayangkan suasananya. Perut sudah kenyang makan burasa' dan rendang. Kita sedang duduk santai di ruang tamu keluarga besar, menikmati es sirup dingin. Tiba-tiba, dari sudut ruangan, seorang Tante atau Om berjalan mendekat, duduk di sebelah kita, menatap tajam, dan melontarkan "Peluru Kendali" mematikan:
"Jadi... kapan mi ini nikah? Teman-temanmu sudah punya anak dua lho!" atau "Kapan lulus ini? Kok skripsinya rasa sinetron Tersanjung, tidak tamat-tamat?"
Jlebb! Rasanya seperti tertusuk duri ikan bandeng tepat di ulu hati, kodong. Suasana yang tadinya hangat mendadak terasa dingin. Keringat dingin mulai mengucur.
Bagi banyak anak muda, acara Halal Bihalal seringkali berubah wujud menjadi sesi interogasi massal. Niat hati ingin silaturahmi, pulang-pulang malah bawa beban pikiran. Tapi tenang, Bosku. Kita tidak perlu lari atau sembunyi di kamar mandi. Kita hadapi mereka dengan elegan.
Kenapa Sih Mereka Suka Sekali Bertanya Begitu?
Sebelum kita mengeluarkan senjata, kita harus paham dulu jalan pikiran "lawan". Kebanyakan dari kerabat kita itu sebenarnya tidak bermaksud jahat. Mereka bertanya seperti itu karena dua alasan utama:
Kehabisan Topik Basa-basi: Mereka bingung mau ngobrol apa dengan anak muda zaman sekarang. Jadi, mereka kembali ke template default: sekolah, kerja, nikah.
Bentuk Perhatian (yang Salah Sasaran): Bagi generasi lampau, pencapaian hidup itu urutannya baku: lulus cepat, kerja mapan, nikah muda. Kalau kita melenceng dari rute itu, mereka merasa khawatir.
Karena niat awalnya (mungkin) baik, kita juga harus meresponsnya dengan baik, tanpa harus merendahkan harga diri kita sendiri. Berikut adalah jurus-jurus ampuhnya:
Jurus 1: "Aaminkan" Saja (Jurus Paling Aman & Damai)
Ini adalah senjata pertahanan tingkat dasar. Cocok dipakai kalau ki' sedang malas berdebat atau lawan bicara ta' adalah sesepuh yang sangat dihormati.
- Cara pakai: Senyum semanis mungkin, tatap matanya, lalu bilang, "Aamin, Tante. Doakan maki' saja yang terbaik nah, semoga disegerakan kalau sudah waktunya."
- Efek: Obrolan biasanya langsung berhenti di situ karena mereka tidak punya celah lagi untuk menyerang.
Tunjukkan kalau hidup ta' itu penuh arti dan sedang sibuk-sibuknya mengejar sesuatu yang keren, sehingga belum sempat memikirkan hal lain.
- Cara pakai: "Waduh Om, boro-boro mikir nikah sekarang. Ini saya lagi pusing urus project web inventaris pakai Laravel. Tiap hari cari solusi error database supaya aplikasinya lancar. Doakan project-nya sukses dulu ya Om!"
- Efek: Mereka biasanya akan kebingungan dengan istilah teknis yang kita pakai, lalu pelan-pelan mengganti topik obrolan.
Kalau ki' punya selera humor yang bagus dan kerabat ta' tipe yang asyik, gunakan jawaban yang sedikit nyeleneh supaya suasananya jadi penuh tawa.
- Cara pakai: "Aduh Tante, calonnya sih sudah ada di angan-angan, tinggal wujud fisiknya yang belum kelihatan." Atau kalau ditanya kapan sukses/beli mobil, jawab saja: "Lagi fokus nabung buat modif motor Vega R tahun 2004 ini Tante, baru ganti karbu PWK 24 Sudco, tarikannya sudah lebih kencang dari niat nikahku sekarang!"
- Efek: Semua orang akan tertawa, dan pertanyaan yang menegangkan itu berubah jadi bahan bercandaan ringan.
Ini agak berisiko, tapi sangat efektif kalau ki' sudah benar-benar terpojok. Caranya adalah dengan memindahkan lampu sorot (spotlight) dari diri ta' kembali ke mereka. Psikologi manusia itu paling suka membicarakan dirinya sendiri.
- Cara pakai: "Iya Om, masih proses ini. Eh ngomong-ngomong, Om kelihatannya makin segar deh, lagi rajin olahraga sepeda ya sekarang? Rute paling jauh sampai mana Om?"
- Efek: Sang Om akan langsung lupa dengan pertanyaannya tadi dan mulai asyik bercerita tentang sepeda mahalnya selama 30 menit ke depan. Kita selamat!
Momen kumpul keluarga itu berharga, Bosku. Jangan biarkan satu dua pertanyaan yang kurang peka merusak mood silaturahmi kita.
Apapun pertanyaan mereka, ingatlah bahwa garis waktu (timeline) hidup setiap orang itu berbeda-beda. Tidak perlu membandingkan diri kita dengan sepupu yang sudah S2 atau tetangga yang sudah punya rumah. Pakai saja salah satu senjata di atas, senyum, lalu segera melipir ke meja prasmanan untuk tambah porsi Coto. Perut kenyang, hati tenang!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar